Oleh: Fadhl Ihsan | Desember 12, 2009

Kemahalembutan Allah Terhadap Janin Dalam Rahim dan Hikmah Dibalik Kepolosan Bayi yang Menyusui (1)

Sekarang coba lihat sekali lagi dirimu sendiri! Siapakah yang telah menciptakan dirimu dengan kelembutan tatkala dirimu berada di dalam perut ibumu. Di tempat yang tidak satu tanganpun dapat menjamahmu dan tidak satu penglihatanpun yang dapat melihatmu. Tidak ada kuasamu untuk mencari makan dan menolak bahaya. Siapakah yang menyalurkan darah ibu sebagai makanan bagi dirimu? Sebagaimana halnya tetumbuhan yang disiram air. Kemudian Allah merubah darah itu menjadi susu.

Begitulah dirimu terus mendapat suplai makanan di tempat yang sangat sempit. Sementara sangat mustahil bagimu untuk mencari makan sendiri. Hingga tatkala tubuhmu telah sempurna dan kokoh, kulitmu telah mampu menerima udara, penglihatanmu telah mampu menerima cahaya, tulang-tulangmu telah mengeras dan mampu menerima jamahan tangan dan dirimu telah mampu menggeliat di atas tanah, maka tibalah waktu melahirkan bagi ibumu. Dirimu memberontak hendak keluar ke alam dunia, alam penuh cobaan. Rahim melemparkan dirimu sekeras-kerasnya dari tempatmu seolah-olah tidak pernah menyelimutimu dan tidak pernah meliputi dirimu.

Sungguh jauh berbeda tatkala pertama kali menerima dan menyelimuti benih yang ditumpahkan ke dalam rahim dengan saat penolakan dan pelontaran ini. Rahim senang saat engkau berada di dalamnya, lalu ia memohon pertolongan kepada Allah karena beratnya mengandung dirimu. Siapakah yang membukakan pintu bagimu sehingga engkau dapat masuk lalu didekap erat oleh rahim? Engkau dipelihara hingga menjadi sempurna? Kemudian siapakah yang membuka pintu itu bagimu dan membuatnya lebih luas sehingga engkau dapat keluar kembali dalam sekejap mata?! Dirimu tidak merasa tertekan karena sempitnya dan tidak ada kesulitan bagimu untuk keluar. Sekiranya engkau benar-benar memperhatikan keadaanmu ketika masuk ke dalam rahim dan keluar daripadanya pastilah tidak akan putus-putus ketakjubanmu menyaksikan hal tersebut.

Siapakah yang mewahyukan kepada rahim agar mempersempit jalan bagimu ketika itu engkau masih dalam bentuk nuthfah (setetes mani) sehingga tidak rusak? Siapakah yang mewahyukan kepada rahim membesar sehingga engkau dapat keluar daripadanya dengan selama? Engkau keluar seorang diri, sebatang kara dan dalam kondisi lemah. Tanpa pelindung, pakaian dan harta benda. Saat itu engkau adalah makhluk Allah yang paling membutuhkan bantuan, paling lemah dan paling miskin. Lalu Allah mengalihkan susu yang engkau konsumsi di perut ibu ke payudara ibumu. Ibumu membawa makananmu di payudaranya sebagaimana ia membawamu dalam perutnya. Kemudian bahan makanan itu dibawa dengan lembut ke payudara ibu melalui saluran yang telah disiapkan khusus untuknya. Bahan makanan itu senantiasa berhenti di tengah perjalanannya hingga akhirnya payudara terisi penuh dengan bahan makanan dan keluar dan dapat engkau nikmati. Itulah sumur yang tidak akan kering airnya dan tidak akan tertutup salurannya. Air susu itu mengalir kepadamu melalui saluran yang tidak akan dapat diketahui oleh seorangpun.

Siapakah yang melunakkannya bagimu dan memurnikannya bagimu? Siapakah yang membuat enak rasanya dan bagus warnanya? Siapakah yang telah memasaknya dengan sebaik-baiknya? Tidak terlalu panas sehingga menyulitkan dan tidak pula terlalu dingin sehingga tidak enak dimakan? Tidak pahit rasanya dan tidak pula asin? Tidak bau bahkan Allah merubahnya menjadi bentuk lain yang bisa dimakan dan bermanfaat, sangat berbeda dengan yang berada di perut.

Lalu Allah mencukupimu dengan makanan sebagai kebutuhanmu pada saat engkau haus dan lapar. Dia-lah Subhanahu wa Ta’ala yang mengumpulkan minuman dan makanan bagimu. Ketika engkau baru saja dilahirkan kedua bibirmu bergerak-gerak mencari susu. Lantas engkau dapatkan puting susu bagaikan kantung air yang menjulur kepadamu. Kantung itu dalam keadaan siap menghadap kepadamu. Kemudian Allah menjadikan pada kepala kantung itu puting sesuai dengan ukuran mulutmu, engkau tidak merasa kesempitan atau kepayahan mengisapnya. Kemudian Allah membuatkan lubang yang halus pada kepala puting susu itu sesuai dengan kapasitas dirimu, lubang itu tidak terlalu besar sehingga engkau bisa tersedak mengisapnya dan tidak pula terlalu sempit sehingga engkau kesulitan mengisapnya. Bahkan dengan hikmah dan untuk kemaslahatan dirimu Allah menciptakan ukurannya sesuai dengan kapasitas dirimu.

Siapakah yang menumbuhkan kecondongan dalam hati ibumu kepada dirimu dan menanamkan rasa kasih sayang yang sangat menakjubkan dan luar biasa. Sampai-sampai ia segera menghampirimu walau bagaimana pun keadaannya, meski saat ia sedang beristirahat ataupun tidur. Apabila ia mendengar suaramu atau tangismu, maka ia akan segera menghampirimu dan lebih mengutamakan dirimu daripada dirinya sendiri. Ia akan bergegas menemuimu tanpa ada yang menuntun dan menggiringnya. Kecuali tuntunan kasih sayang. Ia rela kalau sekiranya seluruh gangguan yang menimpa dirimu itu menimpa dirinya saja sehingga engkau tidak merasakan gangguan apapun. Gairah hidupnya serasa bertambah dengan kehadiranmu. Siapakah yang meletakkan perasaan seperti itu dalam hatinya?

Dan apabila tubuhmu bertambah kuat, lambungmu bertambah luas, tulangmu bertambah keras dan engkau butuh makanan yang lebih keras dari sebelumnya agar tulangmu bertambah kokoh dan dagingmu bertambah alot, maka Allah pun memberimu alat pemotong dan pengunyah. Allah menumbuhkan gigimu untuk memotong dan mengunyah makanan. Siapakah yang menahan tumbuhnya gigi tersebut ketika engkau masih menyusu sebagai bentuk kasih sayang dan kelembutan terhadap ibumu? Kemudian menumbuhkannya bagimu tatkala engkau sudah bisa makan sebagai bentuk kasih sayang, kebaikan dan kelembutan terhadapmu?

Sekiranya engkau terlahir dari perut ibumu dengan memiliki gigi yang utuh, mulai dari gigi taring, gigi geraham, gigi seri dan lainnya, maka bagaimanakah keadaan ibumu saat menyusuimu? Dan sekiranya gigi itu tidak tumbuh saat engkau sangat membutuhkannya, maka bagaimanakah dengan makanan yang tidak bisa engkau makan kecuali setelah dilumat dan dikunyah? Semakin bertambah kekuatanmu dan bertambah kebutuhanmu kepada gigi untuk mengunyah berbagai macam makanan maka ditambahkannya bagimu hingga ditumbuhkanlah gigi taring bagimu untuk mengunyah daging, memotong roti dan menghancurkan makanan yang keras. Kemudian jika engkau semakin kuat maka akan ditambahkan pula gigi-gigi lainnya bagimu hingga akhirnya tumbuhlah geraham untuk melumat.

Siapakah yang membantumu dengan alat-alat tersebut, melengkapi tubuhmu dengannya sehingga engkau mampu mengunyah berbagai jenis makanan?

Kemudian salah satu hikmah yang sangat agung adalah engkau dikeluarkan dari perut ibumu dalam keadaan polos tidak mengerti apa-apa. Engkau dalam keadaan lugu, tidak dapat berpikir, tidak dapat memahami dan mengetahui. Itu merupakan kasih sayang Allah kepadamu. Sebab dalam kondisimu yang lemah engkau tidak akan mampu berpikir, memahami dan mengetahui. Namun saat itu engkau masih tercerai-berai dan terpecah-belah. Lalu sedikit demi sedikit engkau mulai mengetahui beberapa hal. Pengetahuan itu tidak sekaligus engkau terima, namun perlahan-lahan dan berangsur-angsur hingga mencapai titik sempurna.

Dapat engkau bayangkan bila seorang anak tertawan sejak kecil lalu dipisahkan dari negeri dan kedua orang tuanya, ia tidak dapat mengerti dan hal itu tidaklah menyakitkan jiwanya. Namun sedikit saja ia mengerti pasti akan memberatkan dan menyulitkan dirinya. Dan tatkala ia sudah mengerti barulah timbul rasa rindu dan kangen. Dan juga sekiranya engkau dilahirkan dalam keadaan mengerti dan paham sebagaimana kondisi dirimu saat dewasa tentu hidupmu akan sangat susah dan sangat repot. Sebab engkau lihat dirimu digendong, dibawa dan dibalut dengan kain. Dikurung dalam buaian dan ayunan dalam keadaan lemah tiada berdaya melakukan apa yang biasa dilakukan oleh orang dewasa. Lalu bagaimanakah kehidupanmu dalam kondisi ketergantungan secara mutlak seperti itu?

Dan juga belum tumbuh kemanisan, kelembutan dan perasaan dalam hati dan belum tumbuh juga rasa kasih sayang pada bayi yang baru lahir. Bahkan saat terlahir engkau adalah makhluk yang paling susah, paling sulit, paling payah dan paling banyak berbuat sia-sia. Lahirnya engkau ke alam dunia dalam keadaan bodoh tidak dapat memahami dan mengetahui apapun merupakan konsekuensi hikmah dan rahmah serta merupakan sebuah perencanaan yang matang.

Engkau menemui banyak perkara dengan akal yang lemah dan pengetahuan yang kurang. Kemudian sedikit demi sedikit pengetahuan bertambah, engkau mulai mengenal berbagai perkara dan terbiasa dengannya. Engkaupun mulai mencermati alam sekitar dan terpana melihatnya. Engkau mulai memperhatikannya dengan seksama dan mentadabburi alam. Tentu banyak sekali hikmah dibalik itu semua selain yang kami sebutkan tadi.

Sumber: Keajaiban-keajaiban Makhluk dalam Pandangan Al-Imam Ibnul Qayyim, oleh Abul Mundzir Khalil bin Ibrahim Amin, penerbit: Darul Haq cet. 1, hal. 51-56.


Responses

  1. Subhanallah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: