Oleh: Fadhl Ihsan | Desember 12, 2009

Kemahalembutan Allah Terhadap Janin Dalam Rahim dan Hikmah Dibalik Kepolosan Bayi yang Menyusui (2)

Siapakah yang selalu mengawasimu dengan cermat dan mencukupi semua kebutuhanmu pada saat engkau membutuhkannya? Tidak maju maupun mundur waktunya sesaatpun!

Dia-lah Subhanahu wa Ta’ala yang memberimu kuku pada saat engkau membutuhkannya, lalu menghiasimu dengan rambut kepala sebagai perhiasan dan pelindung dari dingin dan panas. Karena kepala merupakan pusat panca indera dan alat berpikir dan mengingat. Fungsinya akal sangat bergantung pada keutuhan kepala.

Kemudian Allah mengistimewakan kaum laki-laki dengan jenggot yang menghiasi wajah mereka, menambah kewibawaan dan keindahan, memisahkan antara masa dewasa dengan masa kanak-kanak dan yang membedakan mereka dengan kaum wanita. Sementara kaum wanita dibiarkan sebagaimana awal penciptaannya supaya kaum lelaki dapat menikmatinya. Wajah kaum hawa dibiarkan sebagaimana asalnya, bersih dan polos agar lebih menarik gairah seksual kaum pria, lebih lezat dan lebih enak untuk dinikmati.

Coba bayangkan, keduanya berasal dari cairan yang sejenis, bahan yang sama, tempat penyemaian yang sama, pembibitan yang sama, lalu siapakah yang memberi sifat kelelakian dan sifat kewanitaan itu? Janganlah hiraukan perkataan orang-orang jahil dari kalangan ahli biologi yang mengatakan bahwa sifat kelelakian dan kewanitaan hanyalah kejadian yang alami, tentu saja perkataan seperti itu tidak dapat dibenarkan dalam kondisi seperti ini kecuali hanya sekedar kesepakatan sebagian orang saja. Kebohongannya lebih banyak daripada kebenarannya*. Jenis kelamin laki-laki atau perempuan tidak lain hanyalah karunia ilahi yang diwahyukan kepada malaikat yang membentuk janin dalam rahim ketika ia bertanya: “Ya Rabbi, lelaki atau perempuan? Bahagia ataukah celaka? Berapa rizkinya dan kapan ajalnya? Lalu Allah mewahyukan kepadanya apa yang Dia kehendaki lalu ditulis oleh malaikat tersebut. Sekiranya hal tersebut terjadi secara alami saja lalu apa pengaruhnya dengan penetapan rizki dan ajal? Penentuan bahagia atau celaka?

Jadi jelaslah bahwa semua itu merupakan wahyu Allah kepada malaikat. Kita tidak memungkiri bahwa Allah menciptakan sebab-sebab lain untuk itu namun sebab-sebab itu dirahasiakan oleh Allah dan tidak diketahui oleh manusia. Allah berfirman:
“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa yang dikehendaki-Nya), dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (Asy Syura: 49-50)

Allah menyebutkan empat jenis wanita bersama kaum pria.
Pertama: Wanita yang melahirkan bayi perempuan saja.
Kedua: Wanita yang melahirkan bayi lelaki saja.
Ketiga: Wanita yang melahirkan bayi lelaki dan perempuan, itulah makna kata ‘yuzawwijuhum’ dalam ayat di atas. Yaitu Allah menganugerahkan bayi lelaki dan perempuan. Keempat: Wanita yang mandul, yaitu yang tidak bisa menghasilkan anak.

Itu semua menunjukkan bahwa sebab terjadinya jenis kelamin laki-laki atau perempuan tidak dapat diketahui oleh manusia dan tidak dapat diungkap dengan analogi ataupun logika. Perkara itu hanya dapat diketahui lewat wahyu.

Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu ia berkata:
“Suatu ketika kami bersama Rasulullah lalu datanglah seorang rahib Yahudi. Ia berkata: “Salam kesejahteraan atasmu wahai Muhammad!” Aku mendorongnya hingga hampir saja ia terjungkal karena doronganku! Rahib itu berkata: “Mengapa engkau mendorongku?” “Mengapa tidak engkau katakan wahai Rasulullah?!” sahutku.
Rahib itu menjawab: “Aku memanggilnya dengan nama yang diberikan oleh keluarganya!”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya: “Adakah manfaatnya bila aku mengabarkannya kepadamu?” “Aku akan mendengarnya dengan telingaku!” jawab si rahib itu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengais-ngais tanah dengan tongkat yang beliau pegang, lalu berkata: “Tanyalah!”
Maka si rahib Yahudi itupun mulai bertanya: “Di manakah manusia ketika bumi dan langit diganti dengan bumi dan langit yang lain?” “Mereka berada di alam gelap sebelum titian shirat,” jawab Rasulullah. “Siapakah yang pertama kali melewati titian itu?” tanyanya.
“Kaum fakir dari kalangan Muhajirin!” jawab Rasul.
“Apa hadiah yang pertama kali diberikan ketika mereka masuk ke dalam Surga?” lanjut rahib itu. “Hati ikan yang besar,” jawab Rasul.
“Lalu apa makanan yang dihidangkan kepada mereka setelah itu?” tanyanya. “Akan disembelihkan seekor sapi Surga yang merumput di Surga,” jawab Rasul. “Lalu apa minuman mereja?” tanyanya.
“Air dari mata air salsabil,” jawab Rasul.
“Anda benar, aku telah menanyakan sesuatu yang hanya diketahui oleh seorang nabi atau rasul atau seorang dua orang saja.” Rasulullah berkata: “Adakah manfaatnya jika aku beritahukan kepadamu?”
Rahib Yahudi itu berkata: “Aku akan mendengarnya dengan telingaku, aku bertanya kepadamu tentang anak?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Mani lelaki berwarna putih sedang mani wanita berwarna kuning. Jika kedua mani itu bertemu lalu mani lelaki berada di atas mani wanita maka yang akan lahir adalah anak lelaki dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika mani wanita berada di atas mani lelaki maka yang akan lahir adalah anak perempuan dengan izin Allah.” Rahib Yahudi itu berkata: “Anda benar, anda memang benar-benar seorang nabi!”
Setelah itu rahib itupun pergi meninggalkan beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Ia telah bertanya tentang perkara-perkara yang baru kuketahui setelah Allah mewahyukannya kepadaku.”**

Menurut logika dan wahyu janin diciptakan dari percampuran air mani lelaki dan wanita. Lelaki menumpahkan maninya ke rahim wanita. Demikian pula wanita melepaskan maninya ke arah mani pria lalu kedua mani itu bertemu di tempat yang telah ditetapkan Allah dan dikehendaki-Nya. Lalu terciptalah seorang anak manusia hasil kerja sama keduanya. Mani siapa yang paling mendominasi maka anak tersebut akan mirip dengannya. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat Al Bukhari dalam Shahihnya dari Humaid dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu diceritakan bahwa Abdullah bin Salam mendengar berita kedatangan shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka Abdullah bin Salam pun menemui Rasulullah dan berkata: “Saya akan bertanya kepadamu tentang tiga perkara yang hanya diketahui oleh seorang nabi. Apakah tanda hari Kiamat yang pertama? Apakah makananan pertama yang dicicipi penduduk Surga? Mengapa seorang anak itu mirip ayahnya dan mengapa pula mirip bibi-bibinya?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Jibril telah mengabarkannya kepadaku tadi.” Abdullah menimpali: “Malaikat Jibril itu musuh bangsa Yahudi.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian berkata:
“Tanda pertama hari Kiamat adalah api yang menggiring manusia dari timur ke barat. Makanan pertama penduduk Surga adalah hati ikan yang besar. Adapun kemiripan anak kepada orang tuanya adalah apabila seorang pria berhubungan intim dengan seorang wanita lalu air mani pria mendahului air mani wanita maka anak akan mirip kepada bapaknya. Jika air mani wanita mendahului air mani pria maka anak akan mirip kepada ibunya.”
Abdullah bin Salam langsung berkata: “Saya bersaksi bahwa anda adalah Rasulullah.”***

Dalam kitab Shahihain (yakni Shahih Al Bukhari dan Muslim) diriwayatkan dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bahwa ia berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak segan dalam menjelaskan kebenaran. Apakah wanita wajib mandi apabila mimpi basah?” “Ya, wajib! Jika ia melihat air mani berwarna kuning!” jawab Rasulullah.
Mendengar hal itu Aisyah radhiyallahu ‘anha tertawa dan berkata: “Apakah kaum wanita juga mimpi basah?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Tentu saja, jika tidak bagaimana mungkin si anak mirip kepada ibunya?”****

Ketiga hadits di atas menunjukkan bahwa seorang anak itu diciptakan dari perpaduan mani lelaki dan wanita. Jenis kelamin anak ditentukan oleh mani siapakah di antara keduanya yang lebih dominan dan kuat. Dan kemiripan ditentukan oleh mani siapakah yang lebih mendahului ke rahim. Mani siapa yang terlebih dahulu sampai ke rahim maka anak tersebut akan mirip kepadanya.

Footnote:
*) Perkataan seperti itu hanyalah sebuah dugaan-dugaan baru tentang jenis kelamin janin yang jelas kebohongannya. **) HR. Muslim (1/252-253).
***) HR. Al Bukhari (VI/2328, lihat Fathul Bari) dan Muslim dalam Shahihnya (I/251). ****) Muttafaqun ‘alaihi, Al Bukhari (138) dan Muslim (471).

Sumber: Keajaiban-keajaiban Makhluk dalam Pandangan Al-Imam Ibnul Qayyim, oleh Abul Mundzir Khalil bin Ibrahim Amin, penerbit: Darul Haq cet. 1, hal. 56-63.


Responses

  1. Ko’ marojiknya ngk ada yg sesuai Ust…??

    HR. Muslim (1/252-253).
    ***) HR. Al Bukhari (VI/2328, lihat Fathul Bari) dan Muslim dalam Shahihnya (I/251). ****) Muttafaqun ‘alaihi, Al Bukhari (138) dan Muslim (471).

  2. salam…
    apa ane yg salah liat yaa…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: