Oleh: Fadhl Ihsan | Desember 17, 2009

Nikmat Pendengaran

Perhatikanlah orang yang kehilangan pendengaran, ia tidak bisa lagi merasakan kenikmatan berbincang-bincang dan bercakap-cakap. Ia tidak bisa merasakan lezatnya mudzakarah dan nikmat mendengarkan suara-suara merdu. Orang-orang sulit berkomunikasi dengannya dan ia tidak bisa mendengarkan berita-berita dan percakapan manusia. Ia berada di antara mereka tapi seolah-olah tidak ada, hidup namun seakan-akan mati, dekat akan tetapi seolah jauh. Para ahli ilmu berbeda pendapat tentang masalah ini, siapakah yang lebih sempurna dan lebih sedikit kekurangannya, orang buta ataukah orang bisu tuli?

Mereka menyebutkan beberapa pendapat dalam masalah ini. Permasalahan ini sebenarnya terpulang kepada satu persoalan: Sifat manakah yang lebih sempurna? Sifat pendengaran ataukah sifat penglihatan…?

Satu hal yang layak kami sebutkan di sini adalah orang yang kehilangan penglihatan lebih berat penderitaannya, lebih selamat agamanya dan lebih baik kesudahannya.

Adapun orang yang kehilangan pendengaran lebih ringan penderitaannya di dunia, lebih jahil tentang agama dan lebih buruk kesudahannya.

Sebabnya adalah orang yang kehilangan pendengaran tidak dapat mendengarkan pelajaran dan nasehat. Akan tertutup pintu-pintu syahwat yang hanya dapat dinikmatinya dengan penglihatan. Ia tidak memperoleh ilmu yang memadai baginya. Mudharat yang menimpa urusan agama orang yang bisu tuli lebih banyak, adapun mudharat yang menimpa urusan dunia orang buta lebih banyak. Oleh sebab itu tidak ada sahabat Nabi yang bisu tuli namun sebaliknya banyak sahabat Nabi yang buta atau kehilangan penglihatan. Jarang sekali Allah menguji para wali-Nya dengan musibah bisu tuli, sebaliknya banyak wali Allah yang diuji dengan musibah kebutaan.

Itulah kesimpulan dalam masalah ini yaitu ketulian banyak merugikan agama seseorang sementara kebutaan banyak merugikan dunia seseorang, orang yang selamat adalah yang diselamatkan oleh Allah dari kedua musibah itu dan dikaruniai pendengaran dan penglihatan oleh-Nya.

Sumber: Keajaiban-keajaiban Makhluk dalam Pandangan Al-Imam Ibnul Qayyim, oleh Abul Mundzir Khalil bin Ibrahim Amin, penerbit: Darul Haq cet. 1, hal. 74-75.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: