Oleh: Fadhl Ihsan | Desember 17, 2009

Nikmat Penglihatan dan Pahala Bagi Orang yang Sabar Kehilangan Kedua Matanya

Kemudian coba perhatikan keadaan orang yang tidak memiliki penglihatan dan kesulitan yang ia temui dalam mengurus urusannya. Ia tidak dapat mengetahui tempat kakinya menapak dan tidak mengetahui apa yang ada di hadapannya. Ia tidak dapat membedakan warna dan tidak dapat membedakan pemandangan yang indah dan yang jelek. Ia tidak dapat mengambil faedah ilmu dari kitab yang dibacanya. Ia tidak dapat mengambil pelajaran dan memperhatikan keajaiban ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Di samping itu ia tidak menyadari berbagai maslahat dan mudharat atas dirinya. Ia tidak bisa mengetahui lubang yang ia bisa terperosok ke dalamnya, ia tidak mengetahui binatang buas yang mengancamnya dan tidak dapat melindungi diri darinya. Dan ia tidak dapat mengetahui musuh yang datang menyerang untuk membunuhnya. Ia juga tidak bisa melarikan diri jika ada orang yang mengejarnya untuk menyakitinya. Pendek kata, kalaulah bukan karena perlindungan khusus dari Allah baginya sebagaimana perlindungan yang diberikan kepada anak bayi niscaya dirinya tidak akan selamat dan akan cepat binasa. Kedudukannya seperti daging yang membalut tulang. Oleh sebab itu Allah menyediakan pahala jika ia bersabar dan semata-mata mengharap surga.

Dan merupakan salah satu kelembutan Subhanahu wa Ta’ala atas orang buta ialah Dia mengganti penglihatannya yang hilang itu dengan ketajaman akal. Ia adalah orang yang paling kuat daya pikir dan daya tangkapnya. Allah memusatkan tekadnya, hatinya selalu terpusat tidak tercerai-berai. Itu semua demi kelangsungan hidupnya dan demi maslahat dirinya. Maka janganlah engkau kira ia bersedih atau berduka. Ini bagi yang terlahir dalam keadaan buta.

Adapun bagi yang kehilangan penglihatan setelah ia bisa melihat maka kedudukannya sama seperti orang yang tertimpa bala atau terkena musibah. Cobaannya tentu lebih berat lagi. Sebab ia tidak bisa melihat pemandangan-pemandangan dan aneka macam rupa yang sebelumnya dapat dinikmatinya serta tidak dapat lagi mempergunakan fungsi penglihatan. Status hukumnya tentu berbeda.

Sumber: Keajaiban-keajaiban Makhluk dalam Pandangan Al-Imam Ibnul Qayyim, oleh Abul Mundzir Khalil bin Ibrahim Amin, penerbit: Darul Haq cet. 1, hal. 72-73.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: